Nyanyian Katak – Cerita Rakyat Korea Selatan

Cerita Nyanyian Katak Hijau menggambarkan kisah seekor anak katak jantan yang selalu bertolak belakang dalam menjalankan perintah ibunya. Jika ibunya menyuruh pergi ke barat, maka yang dilakukan adalah pergi ke timur. Ketika hujan lebat dan banjir datang, ibunya akan berkata, “Nak, jangan bermain-main di pinggir sungai, berbahaya! Bermainlah di perbukitan.” Maka, seketika itu juga, anak katak itu justru langsung melompat ke sungai: “Plung!” menyelam, mempermainkan air, sambil, tentu saja, meledek ibunya. Ketika ibunya mengajari anaknya bernyanyi supaya suaranya lebih merdu:Kungkong, kungkong ~ kungkong, kungkong! Maka si anak katak itu akan menirukannya dengan bernyanyi: Kongkung, kongkung ~ kongkung, kongkung! Begitulah kelakuan anak katak, kerap bertentangan dengan yang diperintahkan ibunya.
Menyadari anaknya selalu melakukan tindakan yang berlawanan dengan perintah ibunya, pada suatu saat, ketika si ibu katak jatuh sakit, ia berpesan kepada anaknya sebagai berikut:
“Nak, rasanya Ibu tidak dapat hidup lama lagi.Walaupun nanti Ibu sudah meninggal, jadilah kamu katak yang baik, dan dapat membahagiakan Ibu. Kalau nanti Ibu meninggal, kuburkanlah Ibu di pinggir sungai, jangan di atas bukit. Inilah pesan terakhir Ibumu.”
Pesan itu sesungguhnya berlawanan dengan maksud yang hendak disampaikan si ibu katak. Pertimbangannya, bahwa anaknya nanti akan melakukan yang sebaliknya, yaitu akan menguburkannya di atas bukit.
Ketika ibunya meninggal, si anak katak itu benar-baenar menyesali perbuatannya selama ini, yaitu selalu melakukan perbuatan yang sebaliknya dengan apa yang diperintahkan ibunya. Dalam penyesalan itulah, ia selama hidupnya, ingin sekali saja menuruti perintah ibunya. Maka, sebagai bentuk penyesalannya itu, si anak katak menguburkan jasad ibunya sesuai dengan amanat terakhir almarhumah. Dikuburkanlah ibunya di pinggir sungai.
Tetapi apa yang terjadi? Pada setiap turun hujan dan air sungai meluap banjir, si anak katak selalu dihantui ketakutan, yaitu kuburan ibunya akan lenyap terbawa banjir. Maka, setiap turun hujan, si anak katak itu selalu menangis sambil berdoa: Kungkong—kungkong, kungkong—kungkong! berharap agar kuburan ibunya tidak terbawa banjir.
Apa makna cerita rakyat itu? Pesannya jelas, yaitu agar anak menuruti perintah orang tua. Tetapi di balik itu, ada makna kultural yang menyangkut tradisi nilai budaya masyarakat Korea. Kuburan adalah simbol leluhur. Maka sebagai bentuk penghormatan pada leluhur, kompleks pekuburan selalu ditempatkan di perbukitan. Pada hari perayaan Chu Seok, hari perayaan pada leluhur, masyarakat Korea akan mudik untuk berkumpul dengan keluarga, mendatangi orang tua, lalu bersama-sama membersihkan kuburan dan memberi penghormatan pada arwah leluhur. Kuburan sebagai simbol leluhur adalah wilayah yang sangat dihormati. Pesan di balik itu adalah penghormatan pada orang tua, atau orang yang lebih tua, atau senior.
via: mysapheiros
Sumber : mahayana-mahadewa

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s