Fan Fiction: My Sleeping Beauty part 1

Author  : Me

Title        : Jaljayo, My Sleeping B2uty

Genre    : Romance

Cast        : Lee Gi Kwang (beast), kim min young (you), kim heechul (superjunior), jo twins (boyfriends)

—di food court mall—

“Heechul oppa, kau tidak datang ya! Awas kau! Aku akan memarahimu dirumah nanti! Aissh~”, gumam ku sambil membanting jus ku ke meja. Aku berdiri hendak pulang ke rumah. Dari tadi aku hanya duduk-duduk di food court menunggu heechul oppa yang mau meneraktir ku makan diultahnya yang ke-28 yang ternyata tidak bisa datang tidak tahu mengapa dan tidak ada kabar. Ketika ku berjalan aku melihat seorang yang ku kenal sedang asik mengobrol sambil menikmati satu cup coffee dan dia bersama seorang yeoja yang tak ku kenal. “mwo?! Itu youngmin! Siapa cewek itu? Mati kau! Diam-diam kau pacaran ya..”, dongsaeng ku yang satu ini sepertinya telah melanggar perkataan eomma. Eomma bilang di usia jootwins yang masih muda tidak boleh berpacaran. Aku membuka tasku untuk mendapatkan topi warna kuning dan sebuah kacamata hitam untuk menyamar. Aku akan menjadi mata-mata youngmin hari ini. “omo omo! Mereka berpegangan tangan! Dasaaaar!”, aku terus mengintip mereka dari kejauhan. Tiba-tiba mereka beranjak pergi. Aku langsung bergegas mengikuti mereka dari belakang. Mereka berhenti di sebuah toko permen lollipop, youngmin membelikan sebuah lollipop untuk si yeoja manis itu. “waaah mereka manis sekaliiii”, ucapku terkesima “Ah! Andwae! Mereka tidak boleh berpacaran”, aku membeli sebuah minuman soda bewarna merah. Aku terus berjalan mengikuti mereka dari belakang tiba-tiba saja youngmin menengok kearah belakang. Sontak aku langsung mengumpat di belakang kursi makan “apa aku ketahuan?”, aku benar-benar seorang stalker hari ini. Aku sedikit lelah aku membuka minuman kalengku, kebiasaan ku adalah mengocok minuman sebelum dibuka. Ketika aku membukanya minuman itu langsung muncrat keluar mengenai celana putih seseorang yang sedang duduk di kursi. Aku lupa kalau minuman ini bersoda. “aaah eotteokke eotteokke?”, aku panik!

“apa yang anda lakukan?”, tanya teman si namja yang kutumpahkan minuman

“kau berbicara dengan siapa?”, tanya orang yang kutumpahkan minuman

“itu yang dibelakangmu”, jawab si namja sambil menunjukkan jarinya ke hadapanku. Orang yang kutumpahkan minuman menoleh kebawah.

“Aaaa handphone! Ya, handphoneku terjatuh disini”, ucapku gagap dan langsung berdiri. Aku melihat wajah namja yang kutumpahkan minuman. Omo! Ternyata dia penyanyi terkenal gikwang! Aku langsung permisi meninggalkan mereka.

“ya gikwang, dia meninggalkan minumannya dilantai”,

“ah iya, kurasa isinya tinggal setengah”, ucap gikwang

“ibayo~ kau meninggalkan minumanmu”, panggil gikwang kepada ku dan dia menghampiriku. Aku gugup takut perbuatanku ketahuan.

“aku tidak membutuhkannya lagi, buang saja”, ucapku sedikit gemetaran

“gikwang kau..?”, teriak temannya sambil menahan tertawa “kau menstruasi ya? Itu di celana belakangmu”, lanjut temannya. Aku langsung lari menuju lift, menyadari siapa yang membuatnya seperti itu gikwang mengejarku. Lift begitu penuh aku menyelip ke pojok kiri belakang, sialnya gikwang dapat masuk juga. Dia mengenakan kacamata hitam, mungkin biar tidak dikenal orang. Dia melihat ke arahku, aku tahu dibalik kacamatanya itu pasti dia menatapku dengan sinis, aku hanya berpura-pura tidak melihatnya saja. “apa yang harus kulakukan?”, pikirku gelisah dalam hati. Aku ingin langsung memberinya uang ganti celana tapi aku hanya membawa uang saku. Tiba-tiba saja terpikir sebuah ide untuk melarikan diri.

“Ah! Kau! Kau! Kau gikwang member beast itu kan?? Ah benar kau gikwang!”, teriakku. Sekerumunan orang dalam lift langsung memusatkan perhatiannya pada gikwang

“benar benar! Dia gikwang! Gikwang!”, kata salah seorang. Semua orang dalam lift langsung mengerumuninya untuk meminta tanda tangan. Aku dapat bebas melarikan diri dengan tenang. Di perjalanan aku memikirkan nasib malang namja itu yang sesak karna dikerumuni orang-orang dalam lift “apa dia bisa keluar dari lift?”, tanya ku dalam hati.

–di ruang keluarga—

Sampai dirumah aku melihat dongsaeng kembarku sedang asik menonton tv

“Ya youngmin! Cepat sekali kau pulang”, sindirku

“pulang? Aku dari tadi siang dirumah saja”, ucapnya. Kwangmin hanya terdiam. Dasar pembohong kwangmin juga pasti tahu hal ini, atau mungkin kwangmin juga punya pacar aku tidak tahu. Awas kalian berdua. Hari ini aku terlalu lelah untuk memberikan pelajaran pada mereka.

“Oh min young-ah wasso?”, sapa heechul oppa kepadaku sambil mengeringkan rambutnya yang basah sehabis mandi. Aku benar-benar kesal sama oppa ku satu ini.

“oppa kau jahat sekali padaku mana aku menunggu mu di mall”, aku mencibirkan bibir ku.

“mianhae min young-ah, sebagai gantinya aku sudah memesan hidangan pasta untuk kita makan bersama disini. Pastanya akan datang bersama dengan eomma”, kata oppa heechul

“waaah! Jinjja hyung?”, tanya si kembar. Beberapa menit kemudian uri eomma datang membawakan banyak pasta. Kami semua langsung melahapnya sangat menikmatinya

“aku benar-benar kenyang hyung, eomma”, ucap kwangmin yang langsung teler kekenyangan

“aku juga…whoa hyung saengil chukkhae” sahut yeongmin yang ikut-ikutan teler di atas sofa

“dasar marmot-marmut kecil..payah”, ucapku sambil tersenyum

“eomma, kau membawa yang aku pinta kan?”, tanya heecul oppa sambil mencari-cari sesuatu di kantong plastic. Ternyata yang di carinya adalah wine.

“oppa aku mau”, mintaku

“jangan tidak baik buat penyakitmu!”, eomma langsung melarangku

“aku juga tidak akan memberikannya” sambung oppa. Hanya tinggal kita bertiga yang masih merayakan ulang tahun oppa, si marmut-marmut kecil itu mungkin sudah tidak bernyawa lagi di atas sofa.

“min young-ah, mianhae tadi aku merayakan pesta ulang tahunku bersama SM dan para fans”,

“dan kau melupakan kami disini?”, tanya ku sinis

“aniyo! Ya! Eomma,  min young, marmot-marmut ku…saranghaeyo~~”, hee oppa yang kemudian kepalanya terjatuh di meja. Dia mabuk.

“dasar! Oppa saengil chukkhae!”. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi

“eomma..andai uri appa bisa merasakan suasana ini…”,

“min young sudahlah. Ayo kita tidur. Kau mau eomma bacakan cerpen sebelum tidur?”,

“tidak usah eomma aku akan menghitung domba-dombaku lagi”, kata ku sambil tersenyum

“benar tidak mau? Kalau kamu tidak tidur seharian lagi akan eomma temani”, ucap eomma dengan wajah yang sangat khawatir

“tidak perlu eomma, sekarang eomma tidur saja”,

“kalau begitu setelah eomma membereskan ini, eomma akan membuatkan susu hangat dan air hangat untuk mu mandi ya”,

“akan ku bantu”, aku membantu membersihkan meja dari sampah-sampah makanan. Setelah itu aku mengambil 3 selimut hangat untuk menyelimuti oppa dan dongsaeng-dongsaengku. Ku kecup kening mereka satu-persatu. Aku sayang kalian.

“min young air hangat dan susunya sudah siap. Eomma, masuk ya”, teriak eomma dari belakang sambil berlalu masuk kamar

“Ne..jal ja”, balasku. Aku beranjak pergi mandi berendam air hangat di bathup. Sambil memejamkan mata aku menikmati hangatnya air ini. Suka terlintas dipikiran ku untuk mengakhiri hidupku dengan cara menenggalamkan diri disini, tetapi aku langsung teringat orang-orang yang kusayangi. Aku tidak mau meninggalkan mereka, aku tidak boleh kalah dengan penyakit ini. Selama ini aku sudah bertahan seperti ini, aku mengidap penyakit insomnia semenjak meninggalnya appa ku karena tenggelamnya kapal yang dinahkodainnya waktu 6 bulan yang lalu. Saat kecelakaan appa aku dan eomma lah yang paling shok.

–flash back—

“appa! Aku masuk universitas. Cepatlah pulang untuk merayakannya”, kata ku di telpon

“Ne, besok appa akan pulang”. Keesokan harinya kami menunggu kedatangan appa tapi yang kami dapat adalah kabar tenggelamnya kapal yang dinahkodai appa. Dan yang paling membuat kita sedih adalah jasadnya yang tidak ditemukan. Penyebab ini semua adalah aku. –flashback end-

Aku tidak bisa tidur, eomma ku melarang ku untuk minum obat tidur. Dokter menyarankan aku untuk tiap hari melakukan meditasi seperti beryoga di sebuah sanggar meditasi khusus untuk pengidap penyakit insomnia, sebelum tidur harus minum susu hangat dan mandi air hangat. Kata Min ah temanku, kamar tidur ku seperti kamar tidur seorang putri raja, sangat nyaman dan indah dengan hiasan-hiasan, ornament-ornamen, dan warna dinding yang indah. Tapi tetap saja aku harus menghitung domba-dombaku sebelum tidur kadang bisa sampai 1000 domba yang ku hitung. Jika ku tertidur paling lama adalah 3 jam dan 4 jam bila minum obat tidur.

Setelah minum susu hangat buatan eomma, aku pergi tidur di jam 2 pagi, dan sebanyak 190 domba masuk ke kandangnya.

“APPA!”, teriak ku tiba-tiba dengan napas terengah-engah. Ketika ku melihat jam mereka menunjukkan pukul 3 pagi. Sial aku benci ini, aku ingin menangis. Ku buka laci kecilku untuk mendapatkan botol kecil yang berisikan obat-obat tidur. Kuambil dengan cepat 3 darinya. Ketika mau masuk ke dalam tubuhku seorang berteriak dari depan pintu kamar ku

“apa yang kamu lakukan!”, heechul oppa memergokiku marah dan langsung merebut obat-obatku.

“oppa…!”, aku merasa tidak tenang air mataku mulai berjatuhan “oppa..jebal!”. Heeppa membuang obat-obatku keluar jendela dia langsung memelukku dan mencoba menenangkanku

“kau bisa mati! min young-ah kau lupa? Kau lupa kalau kita mencintaimu?” tegas oppa yang pelukannya terasa lebih erat. Itu adalah pertanyaan andalan oppa setiap kali aku mencoba melakukan sesuatu hal yang memburukkan buat diriku. Setiap kali oppa bertanya tentang itu aku sadar kalau perbuatanku bisa menyakiti orang yang kusayangi juga.

“oppa…mianhae”, ucap ku sambil menangis

“sudahlah min young-ah, kembali berbaring di tempat tidurmu ya. Oppa akan duduk disamping mu.”. oppa menghapus air mata ku, aku kembali berbaring di kasurku

“ya..mau kah kamu ku nyanyikan sebuah lagu?”, tawarnya kepada ku. Aku mengiyakannya, lalu ia menyanyikan lagu berjudul Hope Is a Dream That Doesn’t Sleep

“oppa, itukan lagu temanmu!”, aku menyela dia menyanyi

“gwaenchana…pejamkan mata mu cepat”. Aku memejamkan mata ku tapi tetap saja aku tidak bisa larut untuk tidur sampai lagu yang dinyanyikan oppaku habis. Lalu oppa ku berkata padaku sambil mengusap keningku dengan lembut

“Min young-ah, aku tidak tahu kau benar-benar tidur atau hanya berpura-pura tidur tapi aku mohon padamu jangan melakukan hal-hal yang tidak baik. Jika appa melihatnya beliau pun tidak akan senang. Kau harus selalu ingat kami yang selalu mencintaimu. Cinta kami tidak akan pernah tidur. Jangan seperti itu lagi..hajima”, ucapnya dengan lembut kepada ku. Oppa ku menangis aku merasakan air matanya yang jatuh di kening ku. Apa yang aku lakukan, aku membuatnya menangis aku sangat bodoh. Oppa maaf kan aku. Oppa ku tertidur dengan lelap di kasur ku, untuk kesekian kalinya aku melihat wajahnya yang sedang tidur. Sangat tampan. Aku bertanya dalam hati, bagaimana wajah ku ketika tidur?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s